Prosa

Perkara Masa Lalu

Berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, hingga aku sampai pada pemikiran ini. Disampaikan seorang teman, tentang pengalaman. Bagaimana aku tahu berbagai tempat menyangkut petualangan dan urusan makan. Tentu jawabnya harus menguak masa lalu. 

Yang dulu aku coba lupakan, yang sekeras tenaga aku tinggalkan. Hingga aku sampai di titik ini, mampu tertawa. Tak berat hati menyampaikan apa yang terasa. Toh, selalu ada hikmah yang tak lagi berhijab. 

Tak cukup satu atau dua yang berkata, aku sungguh sangat berbeda. Terlihat sangat bahagia. Aku tersenyum, mereka bahkan tak tahu. Yang tak kasat mata jauh lebih reda. Hati tak pernah selapang ini. Rasa tak pernah seringan kini. 

Gemuruh telah redam, rindu kian terdiam. Cinta, argggghhh karam. 

Dan benarlah ucapnya, cinta hanyalah sebuah pengalaman rasa. 

Advertisements
Standard
puisi

Seberapa Besar

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kamu menghentikan semua berita tentangmu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak kau biarkan dirimu bangkit dari jingga kelabu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak hentinya kau menghantui bunga tidurku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga poraknya menjalar ke dalam alam bawah sadarku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga hujan mengabarkan ada yang tengah tergugu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kau tak percaya ada maaf yang terhampar untukmu.

Seberapa besar salahku? Hingga tak kau izinkan aku tanpa kenyamanan. Tanpa tahu sudahkah kamu bahagia tanpa aku?

Begitu besarkah salahku?

Standard
puisi

Rasa yang Sederhana

Rasa yang sederhana

Jatuh ketika jatuh
Cinta ketika cinta

Tidak berkeinginan
Tidak berpamrih

Menikmatinya dari kejauhan
Tertawa bersama Tuhan
Mempercayakan cerita
Merajuk dalam doa

Ku sederhanakan
Kembali
Rasaku
Dalam
Diam

Ada satu masa dalam kehidupan
Ketika harus diam, selayaknya ikan mati mengikuti arus
Bukan lelah oleh permainan waktu
Ataupun menyerah pada bidak-bidak catur misteri

Ada satu titik nadir dalam sebuah perjalanan
Ketika harus berhenti, sejenak menghela nafas
Sebelum berpasrah, kemudian bergerak
Sebelum tenggat, kemudian terlambat
Sebelum jeda, kemudian sesal

Atau tidak ada langkah akhir
Kemudian berkata, inilah takdir

 

Standard