puisi

Hanya Doa

Jika tanya itu muncul, seberapa rasaku padanya.

Sederhana, jawabku.

Rasa ini mampu membuatku berani mengetuk pintu Tuhan setiap sepertiga malam untuk meminta.

Rasa ini mendorongku untuk terus merajuk pada Tuhanku melalui ayat-ayatNya.

Rasa ini sanggup membuatku bertahan ketika aku sudah di titik ingin sekali lari.

Sederhana, karena tak ada kata yang melampauinya kecuali doa.

img_20180322_111150-213719954.jpg

Advertisements
Standard
puisi

Seberapa Besar

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kamu menghentikan semua berita tentangmu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak kau biarkan dirimu bangkit dari jingga kelabu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak hentinya kau menghantui bunga tidurku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga poraknya menjalar ke dalam alam bawah sadarku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga hujan mengabarkan ada yang tengah tergugu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kau tak percaya ada maaf yang terhampar untukmu.

Seberapa besar salahku? Hingga tak kau izinkan aku tanpa kenyamanan. Tanpa tahu sudahkah kamu bahagia tanpa aku?

Begitu besarkah salahku?

Standard
puisi

Rasa yang Sederhana

Rasa yang sederhana

Jatuh ketika jatuh
Cinta ketika cinta

Tidak berkeinginan
Tidak berpamrih

Menikmatinya dari kejauhan
Tertawa bersama Tuhan
Mempercayakan cerita
Merajuk dalam doa

Ku sederhanakan
Kembali
Rasaku
Dalam
Diam

Ada satu masa dalam kehidupan
Ketika harus diam, selayaknya ikan mati mengikuti arus
Bukan lelah oleh permainan waktu
Ataupun menyerah pada bidak-bidak catur misteri

Ada satu titik nadir dalam sebuah perjalanan
Ketika harus berhenti, sejenak menghela nafas
Sebelum berpasrah, kemudian bergerak
Sebelum tenggat, kemudian terlambat
Sebelum jeda, kemudian sesal

Atau tidak ada langkah akhir
Kemudian berkata, inilah takdir

 

Standard