Cerpen

Sabar dan Shalatlah

Selepas shalat isya’ aku tertidur di atas hamparan sajadah masih lengkap dengan mukena. Malam itu dingin sekali dan aku terlelap. Sebentuk suara halus membangunkanku, akupun terjaga. Dengan reflek aku tanggalkan mukena dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kukenakan mukena kembali lalu kutunaikan shalat Subuh.

Selepas salam dan berdoa sejenak aku mengemasi mukena dan sajadah, ada keinginan membersihkan dan membenahi kamar yang sudah cukup kotor dan berantakan. Kubongkar isi kamar agar benar-benar bersih dan tidak ada kotoran yang terlewat yang membuatnya semakin terkesan berantakan dan berdebu. Di tengah-tengah pekerjaanku, aku tertegun kenapa masih senyap dan baru tersadar tidak ada suara sama sekali di luar, lengang. Kubuka jendela, gelap gulita dan bintang-bintang masih menari di langit sana. Tidak ada bayangan fajar, tidak ada rangkaian lahirnya cahaya mentari.

Kutengok jam meja kecil, terperanjat angka yang kulihat 02.03 am. Tiba-tiba aku lemas, entah kenapa aku menangis. Aku terduduk, tergugu, marah dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Seseorang mengetuk pintu, aku iyakan. Pintu terbuka dan temanku terkaget melihatku dan menanyakan apa yang sedang kulakukan, kuceritakan apa yang terjadi.

“Sejak kapan kamu begitu bodoh? Kamu marah pada siapa? Allah yang menciptakan siang dan malam? Sedari dulu Subuh sudah diatur waktunya, dia akan datang sekian jam setelah Isya’ dan sekian jam sebelum matahari terbit. Kamu terlalu terburu-buru ingin hari esokmu segera datang, sabar. Semua ada waktunya.”

“Kamu seperti anak kecil, menangisi yang bahkan bukan hakmu. Kehilangan padahal tak pernah menjadi milikmu. Sekarang lebih baik lekas bereskan kamarmu yang berantakan, kamu masih punya waktu pula untuk tahajud sebelum Subuh datang. Shalatmu sudah, sabarmu belum.”

Kuseka pipiku, beranjak mengemasi dan merapikan kamarku kembali.

Sekian.

 

 

Standard
Prosa

Tetap Tak Bergerak

Aku melihat seorang perempuan terus berdiam di satu tempat, perempuan itu terlihat kuat juga rapuh dalam satu waktu. Tersenyum namun nanar dalam satu tatapan, pasrah sekaligus beban dalam satu helaan.

“Sallam, mengapa masih diam disitu?” Tanyaku.
“Sallam, aku tidak diam, aku hanya enggan berpindah,” jawabnya tanpa ragu.
“Bukankah tempat ini terlalu menyakitkan? Aku melihat bagaimana kamu diacuhkan, bagaimana kamu terpinggirkan, terus jatuh, terus terkoyak. Dan aku yakin kamu lebih dari kuat untuk pergi.”
“Akupun tahu aku bisa pergi, dan kamu hanya melihat apa yang terjadi padaku. Pernahkah kamu melihat apa yang aku dapatkan?”
Dahiku berkerut.
“Di tempat ini sabar sering mengunjungiku, ikhlas sering memberikan petuahnya. Tegar mengajakku berbincang dan yang paling aku suka adalah aku sering berdiskusi dengan Tuhan. Semua hal tersebut tak pernah terjadi di tempat-tempat lain,” tambahnya.
“Sampai kapan kamu akan tetap disini?” Tanyaku lagi.
“Aku tidak pernah mempertanyakan itu, karena Tuhan sudah berjanji padaku. Dia sudah menyiapkan satu tempat yang indah ketika aku sudah bisa mengajak sabar, ikhlas, tegar dan teman-teman lainnya untuk tinggal. Entah tempat ini ataupun tempat lain.”
“Meski itu berarti kamu menunggu untuk terus tersakiti?”
“Aah, perlukah kuulang kata-kataku? Sakit ataupun cinta bukankah sama-sama rasa?” Pungkasnya, memberikan tanda ia enggan bicara lagi.
Akupun berlalu, mencerna kata-katanya. Perempuan yang aneh.

Demikian.

Standard